Lebih Jauh tentang Instagram


Aplikasi ini merupakan Twitter-nya foto: foto yang anda upload adalah status update anda. Kapanpun anda melihat sesuatu yang menarik anda dapat memotret, membubuhkan filter instan (hitam putih, sepia, dll), kemudian meng-upload-nya. Foto-foto anda akan muncul di timeline followers anda, begitu pula sebaliknya.
Diluncurkan pertama kali Oktober 2010 eksklusif untuk iPhone dan iPod touch, Instagram menjadi aplikasi photo-sharing terpopuler --satu juta pengguna hanya dalam waktu 2 bulan. Begitu populer, saya curiga Instagram menjadi salah satu alasan konsumen memilih iPhone daripada Android (Instagram untuk Android baru diluncurkan April 2012, di-download lebih dari satu juga pengguna dalam waktu 3 hari).

Instagram dicemooh sebagai aplikasi mengkarbit fotografer. Pengguna, yang mayoritas awam fotografi, dikomentari buta komposisi, banci filter, dll. Seorang kenalan saya menyinggung-nyinggung bahwa Instagram membuat penggunanya meremehkan keterampilan fotografer profesional.

Instagram bukan aplikasi fotografi. Komentar-komentar gegabah di atas menurut saya keliru dengan dua alasan (yang terpikirkan oleh saya). Pertama, yang Instagram lakukan adalah 'memotret' mata pikiran kita. Kedua, Instagram menunjukkan kita dunia, secara harfiah, dari mata pikiran orang lain.

Memotret mata pikiran kita. Instagram dengan sangat jitu menangkap pengalaman 'melihat.' Mata kita terus-menerus memotret lingkungan sekitar. Ketika kita menemukan sesuatu yang menarik, menunjukkan lewat gambar jauh lebih hemat waktu daripada lewat bahasa (ini tidak berarti gambar lebih baik daripada bahasa).

Twitter paham sekali bahwa seseorang ingin selekas mungkin menyampaikan buah pikirnya. Batasan 140 karakter, ditambah ringannya program aplikasinya, membuat berbagi pikiran lewat Twitter menjadi lebih populer daripada lewat Facebook. Celah ini lah yang nampaknya direbut oleh Instagram. Instagram menebak bahwa kita ingin selekas mungkin menyampaikan yang kita lihat pada saat itu juga, dengan sesedikit mungkin penundaan (ini menjadi vital sekali untuk membuat aplikasi foto yang sangat ringan, paling tidak dibanding Facebook). Konsep instan ini juga yang sepertinya menjadi alasan mengapa presentasi fotonya memimik hasil kamera instan polaroid (mengapa namanya instagram, bukan instagraph, saya kurang mengerti)

Bagian aspek paling spot-on dari Instagram adalah fitur filternya. Sepertinya filter-filter ini tidak hanya berfungsi sebagai penggembira. Mata kita memang menangkap gambar, tapi pikiran kita lah yang menghayati gambar tersebut. Pengahayatan tersebut bersifat imajiner dan hasilnya berbeda dengan gambar aslinya. Mata memang menangkap gelombang cahaya frekuensi pendek, tapi pikiran kita lah yang menyebutnya sebagai "biru langit". Bisa jadi 'langit' yang dilaporkan mata tidak "se-biru langit" yang dilaporkan pikiran kita. Pikiran kita melebih-lebihkannya --dalam hal ini menjadi lebih 'indah.' Sepertinya filter-fiter Instagram secara kecil-kecilan mensimulasi 'penghayatan' mata pikiran. Kamera smartphone menangkap gambar seperti mata kita, tapi filter instagram menghayati seperti pikiran. Mungkin ini yang membuat melihat hasil Instagram begitu menyenangkan.
Kamera "memotret"
Filter "menghayatinya" 
Menyiarkan mata pikiran orang lain. Instagram sendiri mem-PR-kan dirinya sebagai aplikasi photo-sharing. Walaupun cukup jelas, sayang sekali bahwa istilah tersebut agak mengurangi yang sebetulnya Instagram lakukan, minds-eye-sharing.

Selancarliah timeline Instagram anda. Anda akan menemukan beragam mata pikiran orang-orang yang anda 'follow.' Beberapa terpikat oleh objek hidup, yang lain objek tak hidup. Beberapa cenderung 'melihat' secara parsial, yang lain secara utuh. Beberapa 'melihat' dari sudut pandang semut, yang lain sudut pandang burung. Anda sebetulnya sedang bersafari di belantara sudut pandang orang lain: teman, keluarga, orang asing.

Koleksi "ruang berbagi pikiran" ini, kalaupun tidak estetik, paling tidak menarik. Dan untuk pertama kalinya mungkin dalam sejarah kira memiliki medium bertukan pikiran dimana tidak terpikir oleh kita untuk tidak setuju dengan 'mata' orang lain, tidak seperti seringkali kita tidak setuju dengan 'bahasa' orang lain.

Saya belajar lewat bacaan-bacaan penelitian bagaimana latihan-latihan pikiran yang sepele ternyata berdampak penting. Sebuah eksperimen klasik tentang kreativitas, misalnya, menemukan bahwa partisipan yang melihat pasangan gambar yang ditumpuk transparan (overimposed) bisa menulis lebih elaboratif dibanding partisipan yang melihat gambaran pasangan yang diperlihatkan bersebelahan. Serangkaian penelitian longitudinal menemukan bahwa anak yang dijanjikan mainan jika ia bisa menahan keinginan untuk memainkannya selama ditinggal sendirian ternyata memiliki karir yang lebih baik dan menempati posisi penting ketika dewasa dibanding anak yang tidak bisa menahan diri. siapa tahu aplikasi ini membantu kita melihat-tanpa-menghakimi 'mata pikiran' orang lain.

Kalaupun saya berlebihan, paling tidak sepertinya saya cukup benar bahwa Instagram bukan aplikasi fotografi.  

Home - About - Order - Testimonial
Copyright © 2010 tentang instagram All Rights Reserved.